Mobile Joomla Templates by Best Web Host

Infeksi Pada Bayi Baru Lahir

infeksiINFEKSI yang terjadi pada bayi baru lahir ada dua yaitu: early infection (infeksi dini) dan late infection (infeksi lambat). Disebut infeksi dini karena infeksi diperoleh dari si ibu saat masih dalam kandungan sementara infeksi lambat adalah infeksi yang diperoleh dari lingkungan luar, bisa lewat udara atau tertular dari orang lain. Beragam infeksi bisa terjadi pada bayi baru lahir seperti herpes, toksoplasma, rubella, CMV, hepatitis, eksim, infeksi saluran kemih, infeksi telinga, infeksi kulit, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan HIV/AIDS.

HERPES (HSV)

Virus ini terdiri dari dua jenis yaitu herpes simpleks tipe 1 dan simpleks tipe 2. Herpes simpleks 1 umumnya menginfeksi di dalam dan di sekitar mulut. Sedangkan herpes simpleks 2 biasanya menginfeksi daerah genital atau alat kelamin sehingga disebut juga herpes genitalis. Herpes genitalis yang terjadi pada mulut rahim seringkali tanpa gejala klinis dan ini bukanlah ancaman ringan apalagi bagi wanita hamil. Herpes simpleks 2 ini bisa mempengaruhi kondisi kehamilan maupun janinnya. Bila penularan (transmisi) terjadi pada trimester I kehamilan hal itu akan mengakibatkan terjadinya abortus. Sedang pada trimester ke II akan mengakibatkan kelahiran prematur. Jika herpes mengenai seorang ibu dan pada saat persalinan sedang kambuh maka akan beresiko menular kepada bayi yang dilahirkannya.

Bayi yang lahir terkena infeksi akibatnya beragam mulai dari lesi hingga mikrosefali (kepala kecil) atau hidrosefali (busung kepala), radang pada mata, radang otak (ensefalitis) serta erupsi kulit yang menyeluruh. Jika bayi yang lahir dengan herpes bawaan ini tidak diobati maka kemungkinan 50-80 % akan meninggal. Penularan pada bayi sebagian besar terjadi pada proses kelahiran yaitu kira-kira 90% selebihnya 5% pada janin melalui plasenta atau langsung mengenai fetus (janin)  selebihnya 5% infeksi HSV2 diperoleh sehabis masa persalinan. Kontak lama dengan cairan terinfeksi dapat meningkatkan resiko bayi tertular.

Cara mengatasinya, infeksi herpes simpleks pada bayi yang baru lahir memang sangat mengkhawatirkan dan memberikan prediksi akibat yang buruk bila tidak segera diobati. Untungnya pengobatan selama ini mampu menurunkan angka kematian demikian juga mencegah progresivitas penyakit berupa infeksi herpes pada susunan saraf pusat atau infeksi diseminata (penyebaran tubuh kebagian tubuh lain). Tindakan terhadap bayi dari ibu penderita herpes genitalis dilakukan secara beragam, diantaranya ada rumah sakit yang menganjurkan isolasi. Selanjutnya, pada bayi dilakukan pemeriksaan kultur virus, fungsi hati dan cairan serebrospinalis (otak). Selain pengawasan ketat selama bulan pertama kehidupannya.

EKSIM

Berbeda dengan kulit dewasa yang tebal dan mantap, kulit bayi relatif tipis dan ikatan antar sel yang longgar. Karena itu kulit bayi lebih rentan terhadap infeksi, iritasi dan alergi. Orang tua perlu memberikan perawatan kulit bayi yang berhubungan dengan beberapa penyakit kulit tertentu. Misalnya saja eksim popok, yaitu kelainan kulit yang timbul akibat radang di daerah yang tertutup popok.

Penyakit kulit pada bayi dan balita ini banyak dikeluhkan orangtua. Penyakit ini umumnya timbul pada lipatan-lipatan kulit paha, diantara kedua pantat dan dapat menimpa di bagian kulit lain. Bagian yang tertutup popok mudah mengalami peradangan karena kulitnya hangat dan lembab serta peka terhadap bakteri serta senyawa yang dapat mengiritasinya.

Eksim popok dapat dicegah dengan cara mengganti popok sesering mungkin setiap kali popok basah. Sebaiknya kain popok terbuat dari bahan lembut dan cara pemakaiannnya tidak terlalu ketat agar kulit tidak bergesek. Penggunaan celana plastik sedapat mungkin dihindari. Eksim popok juga bisa muncul karena adanya zat-zat tajam yang biasa ada pada feses bayi yang menimbulkan peradangan disekitar anus. Bercak ini umumnya terjadi bila sikecil diare.

Penanggulangannya bisa dilakukan dengan mengganti popok setiap kali terasa basah. Popok yang basah bisa pula menimbulkan bercak yang tidak berpusat disekitar anus. Ini terjadi karena reaksi antara zat di feses dan menghasilkan amonia yang merangsang kulit bayi. Penanggulanggannya bisa dengan mengganti popok sesering mungkin. Bila dalam 10 hari belum ada kemajuan atau malah makin memburuk ada kemungkinan kulitnya sudah terinfeksi candida (jamur yang biasa muncul diusus). Segera periksakan ke dokter.

EKSIM SUSU

Keluhan gangguan kulit lain pada anak yang banyak ditemui adalah dermatitis atopik (eksim susu). Penyakit eksim susu ini biasanya sangat gatal. Tampak dari seringnya bayi menggaruk, gelisah serta rewel. Kulit terlihat kemerahan dan terdapat gelembung-gelembung kecil berisi cairan jernih. Bila pecah akan tampak basah kemudian mengering dan menjadi koreng kekuningan atau kehitaman.

Eksim ini terdapat pada kulit daerah tertentu sesuai dengan usia anak. Misalnya pada bayi banyak ditemukan di daerah pipi, sedangkan pada anak di daerah lekukan lengan dan kedua lekukan lutut. Diluar daerah tersebut kulitnya kering dan bersisik. Penyebab penyakit ini sangat kompleks, dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari dalam tubuh yaitu faktor keturunan, maupun lingkungan, misalnya debu, udara panas dan kelembaban. Karena itu perawatan kulit yang paling penting adalah mencegah kulit agar jangan kering.

HIV

Janin yang dikandung ibunya dengan HIV beresiko besar terhadap infeksi virus yang sama. Penularannya bisa melalui ari-ari. Saat keluar melalui jalan lahir atau terinfeksi dari susu ibunya. Untuk mencegah penularan tersebut diperlukan pengawasan dan perlakuan khusus. Mulai dari deteksi dini, tindakan operasi caesar, pemberian obat-obatan hingga mencegah memberikan ASI kepada bayinya.

Adapun pemberian obat antiretroviral (ARV) pada bayi terinfeksi HIV di minggu pertama pasca kelahiran akan memberikan peluang hidup lebih lama. Pemberian ARV sesegera mungkin membantu menaikkan sistem imun yang lemah akibat serangan virus. Karena bayi yang positif terinfeksi HIV tidak mampu mambangun sistem imun untuk ketahanan tubuh. Akibatnya apabila ada penyakit yang menyerang bayi akan cepat sakit dan meninggal. Menurut penelitian bayi yang mendapat terapi ARV akan mempunyai kesempatan hidup lebih lama.

(Sumber: dr. TB Firmansyah B. Rifai, Spa. RSAB Harapan kita untuk tabloid Mom and Kiddie)