Mobile Joomla Templates by Best Web Host

Diare pada Bayi

DIARE pada bayi bisa mengakibatkan kematian. Sampai saat ini penyakit diare atau mencret masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di Indonesia. Diperkirakan, angka penderita antara 150 sampai 430 per 1.000 penduduk setahunnya. Dengan berbagai upaya, angka kematian bayi dan anak akibat diare di rumah sakit sekarang dapat ditekan menjadi kurang dari tiga persen.

Dr Purbawati dari RS PKU Muhammadiyah Solo dalam acara “Info Kesehatan bagi Pengunjung” di Solo, Senin (10/9), mengingatkan tentang bahaya diare pada bayi dan anak. “Diare pada bayi dan anak jangan dianggap enteng, karena bila dibiarkan berlarut, akan mengakibatkan dehidrasi dan selanjutnya shock, bahkan kematian,” katanya.

Menurut Purbawati, selama ini banyak orangtua cenderung menganggap enteng apabila bayi atau anaknya mengalami gejala diare. Sering kali ketika diperiksa ke dokter, penderita sudah dalam keadaan terlambat, lemas, atau kekurangan cairan. Pada bayi berumur kurang dari satu bulan, dinyatakan diare bila frekuensi buang air besar sudah lebih dari empat kali sehari. Sedangkan untuk bayi di atas satu bulan, bila frekuensi buang air besar lebih dari tiga kali. Banyak faktor penyebab pada anak, diantaranya infeksi pada saluran pencernaan, yang bisa disebabkan oleh bakteri atau virus, atau oleh parasit seperti cacing, protozoa, atau jamur.

Dikatakan, karena kematian yang diakibatkan oleh diare lebih sering karena tubuh mengalami dehidrasi, yaitu gejala kekurangan cairan dan elektrolit, maka setiap orangtua harus mengenali tanda-tanda dehidrasi. Misalnya, anak memperlihatkan gejala kehausan, berat badan turun, dan elastisitas kulit berkurang. Ini bisa dilakukan dengan cara mencubit kulit dinding perut. Bila terjadi dehidrasi, maka kulit dinding perut akan lebih lama kembali pulih.

Selain itu, tanda-tanda yang perlu dikenali adalah mata dan ubun-ubun besar tampak cekung; selaput lendir bibir, mulut serta kulit tampak kering. Apabila terjadi gejala dehidrasi seperti itu, maka upaya yang disarankan adalah memberi si anak minum satu gelas air setiap kali buang air besar. Selain cairan oralit, pengobaan pertama bisa diberikan dengan larutan garam atau larutan air tajin dicampur garam. (*/asa)

(Sumber : Kompas, Rabu 12 September 2001)