Mobile Joomla Templates by Best Web Host

Mengatasi dan Mendeteksi Gangguan Tulang pada Anak

ADA beberapa jenis kelainan tulang bawaan sejak lahir. Umumnya sebab gangguan metabolisme kalsium. Pembentukan tulang-belulang anak dalam kandungan terganggu jika ibu kekurangan kalsium. Kita tahu pembentukan tulang-belulang dan gigi-geligi memerlukan kecukupan kalsium. Kelainan tulang bawaan ada yang tampak jelas dari luar, lebih banyak yang tidak kelihatan. Kasus osteomalacia, misalnya. Bentuk kelainan tulangnya bisa berubah struktur tulangnya, atau tulang saling melengket.

Jenis kelainan tulang lainnya mungkin mengenai pembentukan tulang iga, atau tulang belakang yang tidak sempurna sehingga struktur tulang belakang tidak lurus. Kita menyebutnya scoliosis. Struktur tulang belakang miring ke salah satu sisi. Struktur tulang belakang juga menjadi abnormal apabila pembentukan tulang pinggul tidak normal. Dengan demikian lengkung tulang belakang menjadi berlebihan baik lengkung ke depan, maupun lengkung ke belakang. Kita melihat, pada tampak samping, tulang belakang memiliki beberapa lengkung. Mulai dari leher, punggung, dan pinggang, memiliki tiga kali lengkung. Dengan adanya lengkungan ini beban tubuh terbagi pada struktur lengkung yang berfungsi sebagai pegas juga.

Kelainan struktur tulang belakang yang agak parah umumnya akan semakin nyata kelihatan dengan bertambahnya usia. Sudut kemiringan struktur tulang belakang atau scoliosis perlu terus diukur secara berkala untuk memutuskan apakah harus segera dikoreksi, atau masih bisa ditunda.

Kasus scoliosis pada yang masih belum nyata terdeteksi sering tanpa disengaja. Sewaktu memandikan bayi, atau anak, ibu meraba ada bagian tulang yang menonojol di bagian punggung. Kepastian bahwa itu suatu kelainan tulang punggung dipastikan dengan pembuatan foto rontgen. Apabila scoliosis belum juga terdeteksi, kelainan struktur tulang belakang mungkin baru nampak setelah anak mulai bisa berjalan. Posisi berdiri anak tampak tidak sempurna. Atau langkahnya kelihatan timpang bila struktur tulang pinggulnya miring sebelah.

Cepat atau lambat, scoliosis perlu dikoreksi bila sampai mengganggu organ penting di sekitarnya, khususnya saraf tulang belakang. Penekanan, atau penjepitan saraf tulang belakang bisa terjadi apabila ada bagian tulang belakang yang abnormal bentuknya, maupun akibat adanya gangguan struktur tulang.

Lain halnya dengan patah tulang. Umumnya akibat trauma benturan, tumbukan keras, atau terjatuh. Tulang anak belum sekokoh tulang orang dewasa. Maka setiap kali peristiwa anak terjatuh hendaknya waspadai kemungkinan patah tulang. Kejadian patah tulang pun belum tentu selalu nampak dari luar. Hanya patah tulang yang parah, terlebih yang patahannya sampai menembus kulit, yang nyata terlihat. Sebagian besar tidak kelihatan kalau belum difoto rontgen. Apa maknanya?

Maknanya bahwa anak yang ada riwayat terjatuh, jangan dibiarkan sebelum memastikan betul tidak patah tulang. Patah tulang yang luput diketahui, kemungkinan menyambungnya tulang kembali tidak sempurna. Begitu juga bila langsung memutuskan mengurut tulang. Keputusan mengurut anak yang terjatuh membawa bahaya jika sudah terjadi patah tulang. Tulang yang tadinya mungkin baru retak, bisa berisko malah patah kalau diurut.

Mengurut hanya dilakukan jika sudah pasti hanya terkilir, dan dilarang bila patah tulang. Lebih bahaya lagi kalau patah tulangnya malah jadi bertambah komplikasi. Yang tadinya hanya patah tulang, setelah diurut patahnya jadi membentuk sudut. Patah tulang komplikasi lebih sulit mengoreksinya. Yang lebih buruk lagi apabila patah tulang tungkai atau lengan terlambat dikoreksi. Akibat terlambat dilakukan koreksi, penyambungan kedua patahan tulang berlangsung tidak sempurna. Besar kemungkinan panjang kedua belah tulang tungkai atau tulang lengan menjadi tidak sama. Jika terjadi pada tungkai, jalan menjadi timpang.

Patah tulang dapat dikenali bila terjadi pembengkakan, kulit di atas tulang patah tampak kemerahan, dan nyeri timbul bila pada bagian tersebut digerakkan, atau ditekan. Biasanya sudah terjadi gangguan fungsi juga pada bagian tulang yang diduga patah. Bila dipastikan betul kasus patah tulang, mungkin tak selalu perlu pembedahan, dan cukup dibidai (gips) saja. Begitu juga bila hanya terjadi keretakan tulang belaka. Operasi baru dilakukan jika patah tulang sudah komplikasi, ujung patahan tulang sudah berubah posisi, atau tulang sudah hancur, dan patahannya menonjol menembus kulit.

Pembengkakan dan nyeri pada bagian tulang yang patah mungkin baru muncul kemudian. Maka jangan kelewat cepat memutuskan mengurut, atau melakukan koreksi sendiri di rumah sebelum yakin bukan patah tulang. Usahakan membidai bagian tulang yang diduga patah, tidak melakukan banyak mobilisasi. Agar patahan tulang tidak berubah posisi, perlu pembebatan (imobilisasi). Pada usia anak, patahan tulang lebih mudah menyambung dibading pada orang dewasa. Umumnya tulang akan menyambung kembali sebelum 6 minggu. Selain imobilisasi, perlu cukup kalsium dan vitamin C juga agar tulang lebih lekas menyambung.

Oleh : dr Handrawan Nadesul