Mobile Joomla Templates by Best Web Host

Cara Mengatasi Baby Blues

Category: Konsultasi Anak

SAYA melahirkan anak pertama enam tahun yll, di Iran, hanya dengan didampingi suami, tidak ada ibunda atau sanak saudara. Biaya telpon saat itu masih sangat mahal (sekarang sih, telkom Iran sudah banting harga) sehingga tidak mungkin menelpon berlama-lama untuk sekedar curhat kepada Ibu. Kontrakan kami pun jauh dari orang-orang Indonesia lainnya. Ada teman-teman orang Iran yang menengok sesekali, tapi tentu saja komunikasi tidak bisa terjalin dengan sangat akrab. Singkat kata, dalam ‘kesepian’ itulah, anak pertama kami lahir.

Pasca persalinan, kondisi psikologis saya benar-benar kacau, kondisi yang oleh para psikolog disebut BABY BLUES. Atas saran seorang dosen, kami pun berkonsultasi kepada lembaga konseling yang disediakan pihak sekolah. Kebetulan, yang menangani saya adalah langsung kepala lembaga itu, seorang ulama berjubah-bersorban-berjanggut (pada pandangan pertama, saya sempet sentimen loh, ini psikolog apa ustad :).

Beliau ternyata benar-benar ahli dalam memberikan terapi. Dia merekomendasikan suami saya untuk skip kuliah semester itu supaya dapat mendampingi saya di rumah. Kami pun direkomendasikan untuk jalan-jalan ke luar kota dengan biaya dari pihak sekolah. Terakhir, karena saya masih sering nangis dan marah-marah, beliau menyuruh dia pulang berlibur ke Indonesia dengan tiket ditanggung sekolah. Alhamdulillah, ‘badai’ itu sudah berlalu dan Hikmahnya, saya jadi punya “jurus” yang sangat berguna untuk diterapkan dalam ‘melawan’ baby blues setelah persalinan kedua. Nah…. ‘ilmu’ inilah yang ingin saya sharing.

Baby blues adalah perasaan kacau-balau yang melanda ibu yang baru melahirkan (ini definisi ciptaan saya sendiri, hihihi). Konon 80 persen perempuan mengalaminya setelah persalinan. Detik ini senang karena punya bayi, detik berikutnya tiba-tiba sedih dan menangis bercucuran air mata. Susah untuk konsentrasi pada sesuatu, hilang selera makan, susah tidur, kadang bawaannya pengen maraaaah terus. Saya juga waktu itu gampang panik setiap kali bayi menangis dan kebingungan harus melakukan apa. Sebenarnya, “jurus-jurus” yang akan saya tulis di sini lebih cocok untuk ibu-ibu yang melahirkan sendirian, jauh dari kampung halaman, dan tidak ada ibunda atau saudara perempuan yang mendampingi (dan inilah ‘nasib’ saya ketika melahirkan kedua anak saya).

Jurus-jurusnya ini sebagian hasil pengalaman sendiri, sebagian lagi saran dari psikolog yang dulu menerapi saya.

Jurus pertama:

Sebelum si bayi lahir, waspadalah dan kenalilah gejala-gejala baby-blues seperti yang saya sudah tulis di atas. Hal ini sangat berguna dalam menghadapi ’sambaran’ si baby blues. Misalnya, ketika perasaan kita kacau-balau setelah melahirkan, pengetahuan tentang gejala baby-blues akan membuat kita berpikir, “Oh, ini normal, insya Allah akan hilang seminggu-dua minggu lagi…sabar…sabar…”

Jurus kedua:

Lepaskan saja emosi, gak usah ditahan-tahan. Mau nangis, marah, ya keluarin aja. Sadarilah, bahwa kondisi ini normal dan dialami oleh hampir semua ibu, jadi tidak perlu ada rasa bersalah, apalagi merasa:”Aku ini bukan ibu yang baik”. Btw, di sini letak pentingnya pemahaman suami—jadi sebelum melahirkan, perkenalkan apa itu baby-blues pada suami.

Jurus Ketiga:

Usahakan tidur sebanyak mungkin (bahkan kalau ada kesempatan 10 menit pun, gunakan untuk tidur). Namun, supaya si ibu bisa tidur enak, ada hal-hal yang perlu dilakukan:Jangan pedulikan keadaan rumah yang berantakan, cucian yang menumpuk, dll. Memikirkan hal itu malah membuat resah dan susah tidur. Yang penting tidur dulu, urusan lain biar nanti diurus.

Buat manajemen pasca kelahiran (sebelum bayi lahir, perkirakan situasinya: misalnya suami harus kerja, anak harus sekolah, lalu buat planning untuk me-manage segala sesuatunya. Dengan cara ini, pasca melahirkan, kondisi rumah akan terkendali. Contoh manajemen itu:bikin masakan banyak-banyak, simpan di kulkas, jadi tiap akan makan, tinggal dihangatkan, tidak perlu repot2 masak lagi. beri tahu suami dan si kakak letak barang-barang kebutuhan mereka, sehingga tidak ada kejadian, si ibu tidur, suami teriak, “Maaa…bajuku yang biru itu di mana??” (bisa bubar deh tidur si ibu).

Bila sudah ada si kakak, pikirkan bagaimana caranya agar si kakak tidak mengganggu tidur ibu (misalnya, dititipkan ke tetangga dulu selama ayah sedang di kantor, atau dimasukkan ke play-group). Bila memungkinkan, sewalah asisten (aka pembantu), minimalnya untuk sebulan-dua bulan setelah melahirkan, ini akan menyelesaikan banyak masalah.

Jurus Keempat:

Bikin segar diri sendiri, antara lain dengan cara: Mandi berlama-lama (tentu saja, ketika ada si ayah yang menunggui bayi). Dandan yang cantik (melihat diri di cermin dan menatap penampilan lusuh dan lesu diri sendiri pasca melahirkan sangat mungkin akan menambah stress). Telponlah ibu, kakak, adik, atau teman-teman (jadi, sebelum melahirkan, anggaran telpon yang bakal membengkak pun harus diperhitungkan).

Berbicara dengan orang lain adalah salah satu obat terbaik dalam mengatasi baby-blues. Yang dibicarakan tidak harus melulu tentang bayi, malah lebih bagus lagi tentang hal-hal lain, misalnya tentang sinetron yang sedang ngetop di tivi (:D). Internetan dan chatting (pengalaman saya, setelah melahirkan anak kedua, saya segera online lagi, komunikasi lagi dengan teman-teman di Multiply, chatting hampir tiap hari dengan Neng Satpam tercinta… semua ini saya rasakan sangat membantu dalam menormalkan emosi akibat baby-blues).

Kalau sudah kuat jalan, pergilah jalan-jalan ke taman dekat rumah bersama suami, atau, bila sanggup, jalan-jalan sendiri saja ke mall untuk cuci mata atau shopping untuk diri sendiri (baju baru, sendal baru)

Jurus kelima:

Sadarilah bahwa badai pasti berlalu. Rasa sakit setelah melahirkan pasti akan sembuh, rasa sakit ketika awal-awal memberi ASI pasti akan hilang, teror tangis bayi lambat laun akan berubah menjadi ocehan dan tawa yang menggemaskan, bayi yang “menjengkelkan” (karena nangis dan nyusu mulu) beberapa bulan lagi akan menjadi bayi mungil yang menakjubkan, dll.

Setiap kali merasa susah hati, ingatlah betapa beruntungnya kita karena telah dikaruniai anak oleh Allah. Ucapkan alhamdulillah banyak-banyak, untuk mengingat bahwa rasa sakit, perasaan tak karuan, lelah, dan lain-lain, tidak ada apa-apanya dengan nikmat karunia anak yang sehat dan lucu.

Catatan:

Waspadalah … bila perasaan kacau-balau itu belum juga sembuh setelah lewat tiga minggu, berarti si ibu sudah terkena depresi (istilahnya: post-partum depression). Kondisi ini benar-benar harus diwaspadai. Apalagi, bila sampai terlintas pikiran-pikiran aneh, seperti perasaan “Aku sepertinya akan melukai diriku sendiri atau bayiku” atau “Aku bukan ibu yang baik” atau “Aku tidak mungkin bisa membesarkan anakku dengan baik” atau “Lebih baik aku mati saja”. Dalam kondisi ini, SEGERA minta bantuan dokter atau psikolog. JANGAN dipendam sendirian, bahaya!!!

Kalau depresi si ibu tidak diatasi, banyak masalah yang akan terjadi, antara lain: depresi itu akan menumpuk dan ketika si ibu melahirkan anak berikutnya, dia akan menderita depresi yang lebih parah lagi. Ketika sudah sangat parah (yang ditandai halusinasi, delusi, dan pikiran-pikiran aneh)… dampak ekstrimnya: bunuh diri atau melukai, bahkan membunuh bayi (naudzu billah min dzalik… lindungilah kami ya Allah…).

Sekian. Semoga ada manfaatnya.

(Sumber : Sharing kisah dari rumahpohonku.net)