Mobile Joomla Templates by Best Web Host

Tips Menghadapi Anak yang Suka Berteriak

Category: Tumbuh Kembang

PADA saat si kecil berusia sekitar 1- 1,5 th, mungkin anda pernah mengalami saat dimana ia senang berteriak-teriak, baik yang jelas atau yang tidak jelas maknanya. Sehingga kita sebagai orangtua seringkali merasa tak sabar dibuatnya, dan akhirnya menghardik si buah hati untuk diam. Namun timbul pertanyaan, apakah tindakan menghardik itu memang sudah tepat dalam memperlakukan batita yang suka berteriak? Karena seringkali justru semakin disuruh diam, anak justru semakin keras teriakannya.

TUJUAN BERTERIAK

Berteriak pada usia batita, bisa merupakan salah satu bentuk komunikasi agar anak mendapat perhatian orangtua dan lingkungannya. Ini wajar, karena anak usia batita belum memiliki banyak pengalaman bagaimana cara menarik perhatian orang lain.

Berteriak juga dapat merupakan cara untuk mengeluarkan perasaan dan ekspresi keberanian anak dalam menunjukkan kemampuan bicara yang sebelumnya tak dimilikinya. Selain itu, berteriak juga dapat menjadi sarana untuk memuaskan rasa ingin tahu anak. Misalnya seberapa jauh suaranya dapat didengar orang lain, bagaimana ia mampu mengontrol naik dan turunnya volume suara, dsb. Sehingga hal ini sekaligus juga merupakan sesuatu yang menghiburnya.

NORMAL KAH ?

Sesuai dengan tahapan perkembangannya, berteriak pada usia batita ini merupakan suatu yang masih dianggap normal, sejauh hal ini tidak berlangsung terus menerus. Diharapkan dengan bertambahnya usia, meningkatnya kemampuan komunikasi dan kemampuan anak melakukan aktivitas-aktivitas lain, maka kebiasaan anak berteriak juga semakin berkurang.

Suatu teriakan yang bisa dianggap tidak normal, bila teriakan selalu dijadikan alat untuk mendapatkan perhatian terus-menerus dari lingkungannya sehingga membuat orang lain merasa tidak nyaman. Misalnya selalu berteriak padahal lawan bicaranya berada tidak jauh darinya, selalu berteriak setiap kali menginginkan sesuatu, dsb.

APA YANG HARUS DILAKUKAN ?

  • Jangan menghardik anak untuk segera diam. Tetaplah bicara dengan nada lembut sewaktu memberi pengertian pada anak dan lakukan kontak mata dengan anak.Misalnya dengan mengatakan "Kalau adek tidak teriak, ibu juga bisa dengar kok, Justru kalau adek teriak, ibu jadi tidak mengerti maksud adek". Hindari bicara keras terhadap anak, karena hal ini justru akan memberi contoh pada anak untuk berbicara keras.

  • Mintalah anak untuk memperbaiki cara bicaranya lebih dahulu bila perkataannya mau didengar. Ajarkan dan contohkan bagaimana cara menyampaikan keinginan dengan cara yang lebih baik dan suara yang lebih rendah. Misalnya dengan mengatakan "Nah sekarang, coba adek katakan pelan-pelan, adek mau apa?". Hal ini dimaksudkan agar anak dapat mengerti bahwa berteriak itu tidak bermanfaat karena membuatnya tidak mendapatkan perhatian atau sesuatu yang diinginkannya.

  • Bersikaplah tenang dan optimis bahwa fase berteriak ini pasti akan dapat berlalu sejalan dengan pertambahan usia dan kematangan komunikasi anak serta bimbingan yang telah anda lakukan. Hal ini diperlukan agar orangtua dapat bersikap semangat untuk terus memperlakukan anak secara bijaksana, sabar dan telaten dalam menghadapi anak.

  • Berikan aktivitas lain yang dapat mengalihkan keinginan anak untuk berteriak-teriak. Misalnya dengan mengajaknya bernyanyi mengikuti irama lagu, bermain bisik-bisikan /nada suara rendah, bermain dengan membaca gerak bibir & mimik wajah, menirukan bunyi binatang, dsb.

  • Berikan umpan balik positif dengan segera, apabila anak bisa berbicara tanpa berteriak. Misalnya dengan memberikan pujian atau ucapan terimakasih karena sudah membuat anda tidak merasa bising/terganggu.

Oleh : Dra. Adriani Purbo Psi. MBA

(Sumber: www.sahabatnestle.co.id)