Mobile Joomla Templates by Best Web Host

Orang Tua Bukan Polisi

Category: Tumbuh Kembang

ORANG tua bukan polisi yang hanya bertugas mencari kesalahan orang dan menghukumnya. Bukankah lebih baik mencari kebaikan anak dan memberinya pujian?

Polisi Yang Menakutkan

Menjadi “polisi” bagi anak merupakan tindakan salah tapi kaprah. Salah karena tindakan itu sudah terlambat, anak sudah melakukan kesalahan baru diributkan. Kaprah karena tindakan ini paling sering dilakukan oleh para orang tua, baik ibu maupun ayah. Mereka baru bertindak ketika kesalahan telah dilakukan oleh anak, bukan mencegah, mengarahkan dan membimbing sebelum kesalahan terjadi.

Sebelum membuat aturan, orang tua hendaknya mempertimbangkan tingkat perkembangn kejiwaan anak, jangan diukur dengan ukuran orang dewasa. Orang tua hendaknya menyadari bahwa bahwa dunia anak jauh berbeda dengan dunia orang dewasa. Karenanya, ketika menetapkan, apakah perilaku anak dinilai salah atau benar, patuh atau melanggar, jangan sekali-kali menggunakan tolak ukur orang dewasa. Orang tua bukan polisi.

Positif dan Negatif tak Seimbang

Polisi kesiangan ini, adalah para orang tua yang lupa tidak memberikan perhatian positif ketika anaknya berbuat baik. Tidak memberi pujian, ciuman, senyuman, anggukan kepala, bahkan menoleh pun tidak, ketika anaknya mandi tepat waktu, ketika sarapannya habis tak tersisa, ketika membuang bungkus permen di tempat sampah, atau ketika sesekali menutup pintu dengan pelan.

Yang mereka perhatikan hanya ketika anak membanting pintu, menumpahkan minuman di lantai, mengotori dinding dengan kakinya, terlambat mandi, lupa membereskan mainan, membiarkan sikat gigi kotor dikamar mandi, handuk yang tak tergantung ditempatnya, dan masih berderet-deret lagi kesalaahan yang terlihat. Kesemuanya ini,segera disambut dengan perhatian negatif berupa teguran, kata-kata keras, ancaman, perintah hingga hukuman. Yang terjadi kemudian adalah ketidak seimbangan banyaknya perhatian positif dan negatif. Terlalu banyak perhatian negatif, tidak sebanding dengan sedikitnya perhatian positif.

Menjadi Penentang, Penggoda atau selalu Terlambat

Ada dua kemungkinan reaksi anak dalam menghadapi orang tua yang berperan sebagai polisi tadi. Kemungkinan pertama, anak-anak akan belajar untuk selalu menjadi penentang, sebisa mungkin mereka mengelakkan dari kekuasaan orang tua. Dari kelompok penentang ini dapat digolongkan menjadi 3 tipe.

Tipe Penentang Aktif

Mereka menjadi keras kepala, suka membantah dan membangkang apa saja kehendak orang tua. Mereka marah karena orang tua tak menghargai dirinya sebagai manusia. Untuk melawan jelas tak bisa karena sang “polisi” punya kekuatan besar. Maka jalan yang dipilih nya adalah menyakiti hatinya. Mereka kan senang jika orang tua menjadi jengkel dan marah karena ulahnya.

Semakin bertambah emosi orang tua, semakin senang mereka, bahkan rela dihukum asal bisa membuat orang tua jengkel. Bisa jadi anak-anak itu memang menangis kesakitan sewaktu hukuman ditimpakan padanya. Tapi percaya atau tidak, sebenarnya ada perasaan puas melihat “polisi” jengkel dan kalang kabut. Kalaupun mereka tak kuat menahan hukuman, mereka akan mencari cara lain untuk membuat orang tua mereka marah.

Tipe Pemberotak dengan Cara Halus

Sadar bahwa tubuh kecilnya tidak mampu menandingi kekuatan polisi yang tak lain orang tuanya sendiri, mereka memilih sikap diam tapi tidak juga mengikuti perintah istilahnya ndableg(dalam bahasa jawa).

Tipe Selalu Terlambat

Anak-anak seperti itu baru mau mengerjakan suatu perintah setelah terlebih dahulu melihat orang tuanya jengkel, marah, mengomel karena kemalasannya. Untuk menghabiskan semangkuk nasi saja mereka butuh waktu satu jam, itupun harus didiringi omelan ibunya secara terus menerus. Ibu harus pula mengikuti kemana saja perginya si anak untuk menyuapinya. Mereka akan pergi mandi setelah ibunya capek berteriak-teriak.

Mereka juga seringkali tergopoh-gopoh saat berangkat sekolah bahkan mereka terlambat. Bukan karena mereka banyak kerjaan yang membuat mereka terlambat tapi karena mereka sengaja melakukannya. Kalaupun bangun pagi beberapa menit lebih awal mereka tetap terlambat karena mereka sudah terbiasa menunda-nunda pekerjaan dan baru kelabakan saat jam berangkat telah tiba.