Mobile Joomla Templates by Best Web Host

Anak Memiliki Kepekaan, Asahlah Selagi Masih Dini

Category: Tumbuh Kembang

DUA anak TK B itu saling berebut ayunan, dan tidak satu pun yang mau mengalah. "Aku duluan!" ujarnya.“Jangan! Aku dulu. Kamu nggak boleh! " katanya mempertahankan ayunan itu. Kejadian seperti ini bukan hal asing lagi. Mereka seolah tak memiliki tenggang rasa dan mau menang sendiri. Keinginan mereka seolah tak dapat ditawar, dan selalu ingin mendapatkannya.

Melihat kejadian itu, Rahma, ibu dari salah satu anak tersebut khawatir kalau-kalau buah hatinya kelak akan tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki kepekaan atau empati. Hal ini sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, sebab pada dasarnya setiap anak itu memiliki kepekaan, tinggal bagaimana orangtua dan orang-orang terdekat mengasah kecerdasan emosi anak tersebut, agar terbentuk anak-anak yang berkarakter baik.

Dalam mengasah kecerdasan emosi, Daniel Goleman dalam bukunya berjudul Emotional Intelligence, Why It Can Matter More Than IQ (Kecerdasan Emosi, Mengapa lebih Penting daripada IQ) , membagi kecerdasan emosi ke dalam enam wilayah, yaitu empathy (kesadaran akan perasaan, kebutuhan, dan keprihatinan orang lain), understanding others (dapat memahami perasaan dan pandangan orang lain dan mempunyai ketertarikan akan keprihatinan mereka), developing others (mengetahui kebutuhan orang lain ), service orientation (mampu mengantisipasi, mengenali, dan memenuhi kebutuhan orang lain), leveraging deversity (mengolah kesempatan melalui orang-orang yang berbeda), dan organization awareness (mengenali keadaan dalam kelompok).

Menurut Goleman, anak yang memiliki kemampuan-kemampuan tersebut kelak akan mampu membina hubungan personal yang baik dengan lingkungannya, serta membawanya ke pintu sukses dalam berkarir. Mengasah empati, menjadi satu hal penting yang perlu ditanamkan pada anak sejak usia dini, sebab empati merupakan kunci keberhasilan anak kelak. Mengasah empati bisa dilakukan lewat bermain. Selama bermain anak akan belajar memahami dan mengerti orang lain. Bukankah selama bermain anak berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungannya?

Cara lainnya dengan mengajak anak bermain di tempat umum. Di situ ia akan belajar menghargai bahwa anak lain pun juga berhak menggunakan mainan itu secara bergantian. Bisa juga dengan cara mengajak ia berkenalan dengan anak lain seusianya, dan membiarkan mereka bermain bersama. Ajari pula anak untuk memberi pertolongan pada orang yang kekurangan, misalnya ketika ada pengemis, biarkan anak yang memberi uang. Dengan cara ini, anak akan belajar bagaimana menghargai orang lain.

Kapan saat yang tepat untuk mengajarkan empati pada anak? Membentuk nilai dan pesan moral anak, hasilnya akan semakin baik jika dilakukan sedini mungkin, saat ia mulai bersosialisasi dengan orang lain. Jadi, Ibu - ibu dan Bapak - bapak, tak ada kata terlambat untuk mengarahkan si kecil agar menjadi anak yang penuh empati. Apalagi setiap anak itu pada dasarnya memiliki kepekaan.

Tip agar anak belajar mandiri

Ketika disuapi, sebaiknya balita dibiasakan duduk di kursinya. Makan dalam keadaan bermain atau berlari-lari, bisa menyebabkannya muntah atau tersedak. Selain itu, setiap kali didudukkan di kursi makannya, balita Anda segera tahu bahwa waktu makan sudah tiba.

Tips Agar Tak Tumbuh Jadi Anak Egois:

  • Biasakan anak untuk berkata “maaf" bila menyakiti teman atau berbuat kesalahan, atau “terima kasih" bila ia menerima sesuatu dari orang lain.
  • Ketika melihat temannya jatuh dan menangis, ajarkan untuk mendekati dan membantu anak tersebut. Dengan . Ajarkan anak untuk berbagi dengan temannya. Biarkan temannya meminjam mainannya saat mereka bermain.
  • Ketika ia sedang memegang makanan, ajarkan dia untuk memberikan sebagian pada orang yang meminta, atau menawarkannya pada orang lain.
  • Beri pengertian, memukul dan dipukul tidak akan menyelesaikan masalah, dan hanya menghasilkan rasa sakit.
  • Sesekali ajak anak berkunjung ke panti asuhan.