Mobile Joomla Templates by Best Web Host

Pola Hidup Sehat buat Balita Anda

Category: Tumbuh Kembang

MASA balita itu masa emas tumbuh-kembang anak. Bukan cuma jasmani, melainkan juga jiwa, dan kehidupan sosialnya. Salah asuh, salah asah, salah asih, bisa buruk akibatnya. Kecerdasan ibu dalam membesarkan anak, bagian penting dari jaminan bakal normalnya tumbuh-kembang anak. Apa sajakah kiatnya?

Untuk memperoleh pola hidup sehat perlu dibentuk. Mengubah pola hidup yang telanjur tidak sehat jauh lebih pelik ketimbang membentuknya. Dan ini menjadi urusan rumah dan sekolah. Jika anak luput memperolehnya di sana, pola hidup tak sehatnya bisa menggagalkan pembentukan hari depan sosok sehatnya. Kita tahu, peran tangan ibu amat dominan di sini.

Mengacu pada formula seven habits membangun hidup sehat Nadra B Ballcok & Lester Breslow (kebersihan diri; cukup tidur; makan tiga kali; wajib sarapan; berat badan ideal; bergerak badan; dan jauhi rokok, alkohol, narkoba), pola seperti itu yang hendaknya sudah ditanamkan sejak bayi.

Bayi yang dibiasakan bersih, akan merasa risih jika bagian badannya terpapar kotoran. Membiasakan menyeka mulut, hidung, dan tangan dengan lap, atau saputangan, membentuk cara membersihkan diri yang benar. Termasuk kebiasaan mencuci tangan setiap kali kotor dan sebelum makan. Hidup bersih itu dididik, bukan hanya diajarkan. Mendidik berarti panutan yang benar dan konsisten.

Demikian pula dengan waktu makan, waktu tidur, waktu jeda yang sudah terjadwal. Segala sesuatunya ada waktunya. Bila sudah terbentuk kebiasaan hidup tertib dan teratur, menyimpang dari kebiasaan itu, anak merasa risih. Dengan cara itu mesin tubuh juga dibuat terbiasa tertib kerjanya, sehingga optimal fungsinya. Selain waktu makan terjadwal, cara makan, mengunyah, menyuap, dan etika di meja makan, sudah tertanam pula sejak bayi. Keteraturan yang sudah terbentuk menabukan keserampangan hidup kelak setelah anak dewasa. Disiplin pada jadwal dan cara hidup, membangun rasa risih bila menghadapi hidup yang sembrono, dan cara hidup yang kacau, atau seenaknya.

Setelah pola hidup sehat terbentuk dan menjadi kebiasaan, mestinya tidak boleh ada satu pun yang mengalahkan untuk mengacaukannya, atau melanggarnya. Tugas setiap ibu menjaga dan memelihara kebiasaan sehat sejak balita. Sikap tegas dijadikan pegangan, agar tak ada satu pun yang bisa mengalahkan untuk menyimpang dari pola hidup sehat harian. Termasuk bila sedang dalam kegiatan di luar rumah, waktu makan, waktu tidur, dan jedanya, masih tetap terjaga.

Satu yang tak boleh luput dari sikap mendidik yang diperankan ayah dan ibu. Bahwa membangun jiwa anak sama pentingnya dengan memberinya kecukupan gizi. Salah asuh, salah asah, salah asih bisa membangun jiwa yang kerdil, tak tahan banting, atau menyimpang (deviasi).

Tak sedikit kasus gangguan dan kelainan jiwa bermuasal dari kesalahan orangtua dalam membesarkan anak. Mungkin benar tumbuh sempurna badannya, namun belum tentu sehat perkembangan jiwanya. Anak demikian berisiko berkembang abnormal.

Masa balita merupakan masa vital dalam perkembangan jiwa. Selama fase perkembangan jiwa ini orangtua perlu arif menghadapi anak. Sejumlah kelainan jiwa, termasuk penyimpangan seksual kelak berpotensi terjadi jika jiwa anak terpaku (fixation) melewati fase balitanya, atau orangtua salah menyikapinya. Termasuk tindak kekerasan orangtua yang bikin rasa aman anak hilang, rasa rendah diri terbentuk, dan bibit agresivitas tumbuh, selain sikap hostilitas dibawa anak sampai dewasa.

Orangtua juga perlu memberi ruang lebih bebas kepada balitanya. Kuncinya sikap mengasuh dengan hati. Anak perlu lebih banyak belajar skill for life, memberinya kebebasan lebih banyak menjelajahi dunianya. Termasuk kebebasan berani melakukan hal yang baru secara mandiri, sehingga membangun rasa percaya dirinya, dan kelak menjadi anak yang tidak minder.

Kebanyakan orangtua di Timur cenderung bersikap protektif dalam membesarkan anak, sehingga kelak anak kurang berani tampil. Dan memilih tidak bersikap begitu, bagian penting dari membangun pola hidup sehat balita juga.

Hal lain yang perlu ditanamkan pada anak, tentu hidup berdisiplin. Berdisiplin dalam waktu, sikap, dan kebiasaan yang menyehatkan lainnya. Filosofi makna berdisiplin juga termasuk kepedulian orangtua membina sikap anak agar selalu :

  1. Menjunjung tinggi kebenaran.
  2. Kesediaan bertanggung jawab.
  3. Menunda kepuasan (hidup).
  4. Serta hidup seimbang dunia-akhirat.
Banyak kekacauan tumbuh-kembang bisa dilacak dari masa balita. Maka apa yang ibu-ayah rancang dan tanamkan selama masa balita, akan seperti itu anak kelak menjadi. Balita itu ibarat selembar kertas yang masih kosong. Tugas semua orangtua menuliskannya di lembaran kertas kosongnya itu segala sesuatu yang baik, benar, dan adil, agar kelak anak menjadi insan yang baik, benar, dan adil juga.
 
Oleh: Dr. Handrawan Nadesul