Mobile Joomla Templates by Best Web Host

Mengajarkan Anak Disiplin

Category: Tumbuh Kembang

ORANGTUA akan bangga ketika menyaksikan buah hatinya tumbuh menjadi anak-anak yang memiliki sikap disiplin. Langkah pertama yang perlu diajarkan adalah membiasakan anak dengan peraturan. Sikap disiplin yang tertanam sejak dini membuat anak memiliki perilaku positif di kemudian hari. Hal itu sangat penting dan bermanfaat ketika anak menginjak usia remaja hingga dewasa. Banyak orangtua melatih disiplin dengan menerapkan peraturan disertai berbagai jenis hukuman. Misalnya, melarang menonton televisi hingga memukul dan menghukum dengan berat.

Bentuk-bentuk penerapan disiplin yang terlalu keras pada anak, biasanya dilakukan orangtua berusia muda. Bagi anak-anak, penerapan peraturan disertai hukuman, bisa membuat mereka lebih cepat melakukan tugas. Namun, penempatan hukuman yang tidak sesuai akan berakibat buruk pada mental mereka.

Pada saat orangtua membentak, hal itu dapat mempengaruhi mental anak hingga memicu tingkah laku yang agresif pada anak.Penelitian Sosiolog dari University of New Hampshire, Murray Straus membuktikan hal tersebut. Studi tersebut dilakukan dengan melibatkan 991 orangtua.

Dalam survei yang dilakukan, Straus menemukan bahwa membentak dan mengancam adalah bentuk paling umum dari agresi yang dilakukan orangtua. Dibandingkan tindakan yang lebih ekstrem lagi, seperti mengancam, memaki, dan memanggil dengan kasar atau dengan panggilan seperti bodoh atau malas.

Selain itu, studi yang dilakukan Straus juga menemukan bahwa semakin muda usia orangtua, semakin sering pula mereka melakukan tindakan tersebut. Dari survei itu, 90% orangtua mengaku melakukan bentuk-bentuk agresi psikologis saat anak berusia dua tahun. Sebanyak 75% di antaranya mengaku melakukan bentakan atau berteriak pada anak.

Sedangkan, seperempat orangtua dalam survei tersebut memaki anaknya,dan sekitar 6% bahkan mengancam untuk mengusir sang anak. Menurut Straus, tindakan itu membawa efek psikologis jangka panjang bagi sang anak, meski secara hukum belum bisa disebut kekerasan terhadap anak. Dia menuturkan, memang dampaknya tidak langsung terlihat. Biasanya baru terlihat setelah mereka semakin dewasa.

"Agresi psikologis itu bisa membuat anak menjadi sulit beradaptasi atau bahkan berperilaku buruk. Sebab,anak merasa kehilangan perlindungan sejak mereka kecil," kata Straus. Faktor lainnya yang dialami anak karena kemarahan orangtua yang terlalu berlebihan adalah anak menjadi kurang percaya diri, atau sebaliknya, menjadi pemberontak.

"Tetapi yang paling dikhawatirkan adalah mereka melakukan hal yang sama terhadap anak mereka kelak, seperti balas dendam di masa kecilnya,"katanya. Ketegasan orangtua dalam melatih anak-anaknya untuk berdisiplin, menurut Straus, tidak harus diawali dengan kekerasan, bentakan ataupun amarah. Perhatikan kecenderungan anak apakah menunjukkan perlawanan.

Ketika terlihat perlawanan, saatnyalah orangtua menunjukkan batasan yang tegas. Batasan yang tegas akan mengajarkan seorang anak kapan dia harus menghentikan perilaku yang tidak dikehendaki dan menurut pada orangtuanya. Orangtua bisa berkata, "jangan melempar-lempar mainanmu seperti itu".

Batasan tegas semacam itu lebih baik jika ditunjukkan dengan suara orangtua yang terdengar tegas seperti komando dan mimik muka yang serius. "Batasan yang lunak atau tidak tegas dapat membuat anak mempunyai pilihan, menurut atau membangkang," terangnya. (nsa)

(Sumber: www.okezone.com)